21:46

Jika sore adalah pelabuhan, maka malam adalah tujuan. Sore identik dengan senja, keindahan perpisahan hari dengan manusia. Tapi malam lebih indah lagi, cahaya benda langit itu seperti sengaja dibuat untuk menemani istirahat jagat raya.

———————————————————————————————————————————

2013

Semua akan indah pada waktunya, itu yang sering saya ucapkan ke telinga istri. Terutama ketika kami sedang frustasi lantaran tak kunjung juga diberikan keturunan. Anak, adalah lambang keberhasilan, mungkin menunjukkan bahwa tak ada satupun yang malfunction di organ reproduksi kami. Kenyataannya, anak adalah rejeki. 

2013 adalah tahun puncak rasa frustasi itu. Dan saya lah biang keladi frustasi itu bila ditilik dari sudut pandang manusia dan tentu saja medis. Di tengah rasa frustasi itu, saya berpikir cepat, memutuskan meninggalkan tempat kerja yang nikmat itu menuju tempat lain yang menjanjikan “solusi”. Agustus 2013, solusi yang dipikir dengan cara manusia itu dieksekusi, saya menjalani operasi pertama (dan semoga yang terakhir).

Bulan depannya adalah masa pemulihan. Di masa pemulihan yang akan memakan waktu 3 bulan itu, istri mengabarkan bahwa kami akan mendapatkan rejeki yang kami tunggu – tunggu itu. Ada tanda positif dari alat test kehamilan. Sujud!

13:00

Siang di 19 April 2014, kami baru pulang ke rumah setelah periksa rutin ke rumah sakit langganan. Tadinya kami ingin berjalan-jalan siang ke rumah saudara, tapi terpaksa saya batalkan karena cuaca tak mendukung. Entah kenapa malah sampai di rumah, langit terang benderang. 

16:00

Selepas sholat Asar, saya dan istri boncengan ke Mall sebelah. Lalu dilanjutkan jalan – jalan sore di pasar yang “mengagetkan” itu. Ritual biasa yang kami lakukan di Sabtu sore. Beli buah, jajanan dan pulang untuk menikmati jajanan. 

17:30

Kami sampai di rumah mamak, mertua saya. Menikmati gorengan di sore hari kurang pas tanpa es kelapa. Kami berburu es kelapa dan kegiatan perburuan itu berakhir dengan tangan hampa.

18:30

Kami kembali ke rumah sebelum magrib. Pamali, ibu hamil di luar saat magrib, kata mertua. Tetiba di rumah, istri duduk. Tup katanya, seperti ada sesuatu yang pecah. Seperti gelembung balon yang meletus. Pelan tapi pecah. Lalu keluar cairan bening. Istri panik, tapi saya lebih panik. Berkeliling cari tumpangan ke rumah sakit, tapi tak dapat. Alhamdulillah Bapak mertua sudah siap dari kebun, bersiap menjemput kami. Dan kami pun berangkat ke rumah sakit. Di jalan, kami berdoa dan berdzikir.

19:00

Tiba di UGD, air ketuban semakin deras mengucur. Panik? Tentulah. Meminta dokter jaga segera menghubungi dokter Tjahja, dokter kandungan kami. Setelah beberapa menit, istri dibawa ke lantai 2 untuk direkam, persis seperti siangnya. lalu dicek jalan lahirnya. Masih bukaan 1. Perawat mengatakan kemungkinan besar Sectio. Napas tersengal. 

20:00

Akhirnya masuk ruang rawat inap. Seperti prosedur operasi biasanya, istri diobservasi, ditanya hal – hal terkait anestesi. Perawat mengabarkan operasi akan dilakukan pukul 21:00. 

20:30

Istri diantar ke ruang operasi. Saya menemani sampai di ruang tunggu operasi. Dingin, tapi saya sudah familiar dengan ruang operasi. Dokter anestesi kemudian datang menjelang pukul 21:00. Menanyakan berbagai hal. 1 yang saya ingat. “Kapan terakhir makan?” | “Jam 12 dok” | “Lama juga ya.. ” | “Jam setengah enam sih makan gorengan” .. Terlihat dokter mencatat jam waktu istri makan gorengan itu. Entah “gorengan”nya ditulis juga atau tidak.

21:00 

Saya “diusir” dari ruang tunggu operasi keluar. Saya menunggu di luar lorong area ICCU dan NICCU. Perut yang tadinya lapar, tidak saya rasakan. Kurang lebih ini 2 jam paling lama dalam hidup saya, sejauh ini sih. Setiap orang yang keluar masuk saya terus perhatikan. Pukul 21:30 seorang anak kecil perempuan yang kata orang disekeliling saya lepas operasi paru-paru keluar. Disambut haru keluarganya. Sedu.

22:15

Seorang perawat keluar dari lorong. Dia membawa tempat tidur inkubator dan di dalamnya ada seorang bayi tertidur pulas. Cantik, batin saya. Dia memanggil saya dan meminta saya ikut ke ruang bayi. Peristi. Kami masuk ke ruang level 2. Iya, bayi itu anak saya. Perempuan, cantik. Masih ada sisa noda air ketuban dan sedikit darah. Menangis. Mungkin kedinginan. Tali pusarnya masih dijepit. Rupanya bayi kami sudah lahir pukul 21:46 tadi. Butuh beberapa menit untuk pemulihan dan menuntaskan prosedur standar operasi / bedah. Saya diminta menuliskan data saya dan ibunya, lalu namanya. Saya beri nama Nadhira Thafana Sumaryono. Nadhira Thafana yang berarti perempuan baik berparas manis. Dia memang cantik dan manis. Sumaryono adalah nama mendiang ayah saya. Richardus Sumaryono. Saya ambil untuk mengenang nama ayah. Pria yang hanya menemani saya selama 1 tahun hingga tahun 1988. 

Setelah form selesai saya bergegas mengadzani Nadhira, putri pertama saya. Saya susul dengan iqomah. Agak bergetar. Saya nyaris beradzan sambil menangis. Meski mungil, Nadhira lahir dengan sehat. Alhamdulillah organnya baik dan lengkap. Cantik pula. Sang Maha Pemberi Hidup mengabulkan doa kami di setiap akhir sholat wajib dan sunnah.

Saya segera ke ruangan rawat inap. Memberitahukan kondisi Nadhira ke istri saya. Biar ia tak cemas. 

……………………………………………………………………………………………..

Sore sudah berganti malam sejak tadi. Malam yang mungkin terbaik dalam kehidupan saya sebagai pria. Karena di gelap malam ada tangisan menyambut kehidupan. Saya memeluk semua rasa frustasi yang dulu pernah hinggap. Berterima kasih karena saya diajarkan cara untuk bersabar. Sabar yang tak pernah saya kenal semenjak kecil. Berterimakasih atas pelajaran yang terbaik bernama pengalaman. Pengalaman untuk tabah menanti pemberian Tuhan, Allah SWT yang Maha Pemberi, yang tidak patut kita memikirkan kapan waktunya namun harus sibuk memantaskan diri di hadapan-Nya. 

Selamat Malam. Alhamdulillah.

via Tumblr http://ift.tt/1o9yM7B

Leave a Reply