Dear Calon Batam Satu

Niki bukan surat terbuka. Setengahnya sih tzurhat. Sisanya biar blogku sedikit nambah isi. 

Kepada yang terhormat bapak dan ibu calon pengemudi Batam, atau yang lebih hakpret disebut Batam Satu,

Ananda tak mengerti mengapa suhu perpolitikan 2015 ini kian memanas. Di tahun ini masyarakat terbagi dua kubu, kubu yang sableng dan kubu yang gendheng. Dua duanya berbahaya. Maka dari itu, alangkah indahnya jika bapanda dan ibunda calon Batam Satu ini jumlahnya jangan dua. Mbok ya di atas empat, malah kalau bisa dua puluh. Biar kalau terpecah di media sosial ya sekalian ada dua puluh kubu. Inget ya, jangan dua, jangan ngikutin BKKBN.

Ananda juga mengharapkan bapanda dan ibunda sekalian untuk aktif di media sosial. Coba lah bikin meme meme lucu sebagai alternatif bahan kampanye. Bapanda dan ibunda sekalian, cobalah lebih kekinian, tapi jangan hipster. Bikin lah akun Facebook, Twitter dan Instagram. Tiga media sosial tadi bisa mengantar dari presiden kulit hitam pertama di Amriki sampai mas krempeng si penjual mebel ke istana. Kalau panjenengan kurang handal dalam menarik follower, coba kontak tim propaganda media sosial yang sudah ternama. Oh iya, mas Bonru juga bisa dijajal. Tapi sih kabarnya beliau sudah insyaf. Mungkin dia lelah.

Bapanda dan Ibunda yang ku cintai, lupakan cara – cara lama. Panjenengan semua mungkin sudah mahfum dengan istilah what-so-called blusukan, (yang sebenarnya emang begitu kerjanya pemimpin). Cobalah diikuti. Jangan lupa panggil media mainstrim sekalian. Cobalah sesekali naik ojek, jangan lupa pakai helm. Masuk ke pasar basah. Oh iya, kalau ke pasar basah jangan ngabari dulu. Nanti dibersihin. Jadi ndak basah lagi. Kan panjenengan jadi ndak bisa merasakan sensasi belanja sambil cincing – cincing celana atau rok. 

Ananda juga dengan ini mengajak bapanda dan ibunda yang pastinya punya mobil nan kinyis untuk sekedar meluangkan waktu menjajal jalanan Mukakuning di sekitar jam 7 pagi atau jam 5 sore. Kemudian dilanjutkan menikmati jalan dari arah muka kuning ke simpang barelang di saat hujan lebat usai melanda. Atau menengok ajaibnya sebuah simpang di area Bengkong. Sebagai saran, ketika mencoba pengalaman merakyat ini, jangan lupa sangu rempeyek. Biar bisa nunggu duduk manis sambil nyemil. Dan merasakan metafora betapa garing dan renyahnya hidup di Batam.

Jika bapanda dan ibunda sekalian sudah bosan naik mobil kinyis tadi, tinggalkan saja di garasi. Lalu cobalah angkutan umum. Misalnya naik angkutan dari batu aji ke batu merah di batu ampar sana. Atau dari rumah panjenengan sekalian ke piayu. Satu lagi coba naik angkutan umum dari Jodoh ke Nongsapura. Duh pasti nikmat. Kan angkutan Batam sudah lengkap, mampu menjelajahi daerah – daerah pinggir kota hingga area metropolis. Ih, ini sih ecek – ecek.

Bapanda dan ibunda, selain hal icik icik kemriwik di atas mungkin masih banyak hal lain yang belum ananda sampaikan. Tapi panjang lebar ananda menulis pun, bapanda dan ibunda belum tentu membaca. Apalagi mengingat ananda ini adalah rakyat yang awak-ni-apalah-yeken.

Ya sudah, nasi ananda sudah hampir dingin. Makan dulu lah.

via Tumblr http://ift.tt/1DRY4R0

Leave a Reply