Jalan Jalan Ke Pulau Pari

Berawal dari retro yang dari masa ke masa belum terealisasi di kantor, saya dan rekan se-divisi menginisiasi ide untuk jalan – jalan. Saat itu diadakan vote, pilihannya antara Lembang atau Pulau Pari. Di antara 7 orang, ada 2 orang memilih Pulau Pari dan sisanya memilih Lembang. Ya, yang menang Lembang. Tapi kami adalah divisi yang anti-mainstream, kami justru memilih Pulau Pari sebagai pilihan minoritas. Hidup minoritas!!

Karena ke Pulau Pari adalah hal yang sangat asing dan belum ada yang berpengalaman, kami menggunakan jasa tour organizer kenalan salah satu anggota divisi kami. Karena saat itu, paket yang ditawarkan cukup menarik dan murah. Untuk tur 2 hari 1 malam, kami dikenai biaya sekitar 360 ribuan sahaja. Itu sudah termasuk 2 homestay, tiket kapal bolak balik dari dan ke Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, 2 spot snorkeling, barbecue, makan 3 kali sehari, bonus banana boat dan lain sebagainya.

Hari sabtunya, kami berkumpul dari area lobby kantor sesaat setelah subuh. Dhira, yang sedang enak tidur kami bangunkan, karena memang dhira dan istri saya ajak ke Pulau Pari. Kami berangkat kurang lebih pukul 5:30 pagi. Menyusuri jalanan Jakarta di sabtu pagi memang tidak seperti hari kerja, jalanan saat itu cukup lengang. Sesampainya di dekat kampung nelayan, Muara Angke, jalanan cukup sempit dan macet. Sopir kami, bercerita tentang masa lalu area ini yang kumuh dan luar biasa ruwet. Tapi menurutnya sekarang sudah agak berbeda, sedikit lebih rapi dan tertata. Namun hal berbeda saya rasakan ketika masuk lebih dalam dan sudah sangat dekat dengan pelabuhan. Area tersebut begitu kumuh, tak seperti yang di area kampung nelayan bagian depan. Saat itu sopir keheranan, lantaran setelah agak lancar tiba – tiba di dekat pertigaan jalanan mulai stagnan, macet. Dan dibukalah pintu mobil tersebut, sang sopir melihat keadaan luar. Bau anyir dan busuk bangkai ikan itu masuk ke dalam mobil. Beuhh, parah nih sopir. Tengku Pak pir.

 

Sesampainya di pelabuhan, kami menunggu sebentar untuk berangkat. Masuk ke area dermaga, saya tidak terkejut dengan berjubelnya para calon penumpang di sini. Dan tahu sendiri bagaimana cara bangsa ongol – ongol ini mengantri. Pokoknya jangan lepas gandengan dari anak dan istri. Rombongan kami cukup ramai, totalnya mencapai 32 orang. Jadi kami memastikan tak ada yang ngeloyor baik secara random maupun tak random. Lah 🙂

Sarapan dulu ya nak 🙂 – credit to Anjay

Kapal penumpang dari Pelabuhan Kali Adem jangan dibandingkan dengan Kapal yang ada di Marina, Ancol. Dari segi harga sudah sangat berbeda. Kapal menuju Pulau Pari (atau pulau manapun di area Kabupaten Kepulauan Seribu) ini adalah kapal kayu, bukan kapal speedboat dengan bahan fiber itu. Dan di dalam kapal bagian dek bawah, udaranya cukup pengap dan panas, terutama sebelum berlayar. Beberapa teman sengaja pindah ke dek atas yang lebih enak udaranya. Masuk kapal kisaran jam 8 dan kapal baru berangkat sekitar pukul 9. Berkuah deh kami.

Woa, fanaaaasss

Wajah Lelah!

Sekitar pukul 11 kami sampai di Pulau Pari, disambut cuaca yang gerimis tipis. Tapi Alhamdulillah beberapa saat sudah kembali cerah. Di Pulau Pari, kami dipandu oleh seseorang yang sudah bekerja sama dengan pihak organizer di Jakarta. Saya lupa namanya, heheh. Tapi yang jelas orangnya ramah dan baik. Kami mendapatkan 2 homestay yang terbilang cukup baik. Ber AC dan nyaman.

Dermaga Pulau Pari

Hello Pari

Pemandangan depan Homestay

Setelah ISOMA, kami melanjutkan acara, kembali ke pelabuhan dan kali ini kami akan snorkeling di dua titik. Cuaca cerah, plus air laut adalah kombinasi yang pas buat saya dan teman – teman yang doyan main air. Byurrr, Memang tak seindah raja ampat atau bunaken, tapi dengan harga yang murah, snorkeling di area Pulau Pari ini sudah cukup keren. Kami juga tidak lupa untuk foto underwater.

Kapal Rosak – credit to Sugandi

Snorkeling Cihuy – Credit to Peter

Dudu baywatch, iki baymax – credit to Sugandi

Spot yang kedua agak keruh – credit to ? mbuh, mas mas kuwi lah

Pulang dari snorkeling, waktu sudah agak sore. Beberapa rekan menuju pantai yang letaknya cukup jauh dari homestay, saya dan keluarga sengaja ke pantai yang paling dekat. Namanya Pantai Pasir Perawan. Bukan sembarang Perawan, di sini pantainya cukup baik. Bersih dan nyaman.

Ga harus perawan yang bisa ke mari 

Pantai Pasir Perawan – sounds weird but ok lah

Ngejar sunset

Lalu malamnya di sambung dengan acara BBQ. Ngomong – ngomong, BBQ ini terpisah dari makan malam, jadi kondisi anak – anak kantor sudah cukup lelah. Karena jarang berolahraga, snorkeling tadi siang cukup menguras stamina.

By the way ini homestay kami

Pinky pinky unyu

Mereka yang tepar dan mereka yang menolak tepar

Bakarin iwak mas

Paginya saya masih merasa lelah. Karena sudah sering ikutan Banana Boat di lain tempat, saya jadi malas ikutan. Menurut laporan rekan – rekan, acara Banana Boatnya cukup seru.

Waktunya sebenarnya sangat mepet untuk ikut Banana Boat, karena saya belum selesai berkemas pulang. Oh iya, pulangnya saya sengaja tidak ikut ke Kali Adem, melainkan naik kapal speedboat ke Marina, Ancol. Harga tiket sekali perjalanan dari Pari ke Marina adalah 150 ribu rupiah per orang. Harganya jauh jika dibandingkan dengan harga ke Kali Adem yang hanya 40 ribu.

Nunggu kapal sambil main pasir

Perjalanan dari Pulau Pari ke Marina yang jika ditempuh dengan kapal kayu memakan waktu 2 jam lebih, dengan speedboat  hanya 1 jam saja ku telah bisa, cintai kamu kamu kamu …. halah..

Pulang

See you on the next trip 🙂

via Tumblr http://ift.tt/1SvDJpZ

Leave a Reply