Pengalaman Perpanjang Paspor Di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan

Sekali waktu, pagi, saat mata masih campur belek. Pak Bos anyar mengirimkan pesan bahwa saya akan dikirim untuk berdinas di suatu tempat jauh (bukan, bukan Bekasi), yang mengharuskan saya memperpanjang masa berlaku Paspor saya. Doh, bliyo ini apa ndak paham kerumitan birokrasi di negeri ini. Apa lagi mengurus perpanjangan Paspor ini kan sami rawon sama pengurusan baru. Demi untuk agar supaya saya terhindarkan dari birokrasi yang ultra ruwet ini, saya sempat terpikirkan untuk menggunakan jasa calo.

Hellow mas brow! Tahun 2016 jaman udah e-government begini apa iya masih ada calo? Mungkin ada, tapi kan ya sudah susah bergerak, sangat minim. Seminim kumis tipis Gilbert Marciano pas jadi anak SMP di sinetron jaman itu. Lalu saya segera membuka peramban dan mulai mencari di situs pencarian nomor satu di planet Bumi ini. Dari pelbagai sumber baik blog maupun situs resmi kantor imigrasi, saat ini tata cara dan persyaratan mengurus Paspor sangatlah mudah. Jadi, untuk apa pakai jasa orang lain. Selain mihil, itikad baik pemerintah untuk menyediakan pelayanan yang terbaik harus kita sambut dengan pola pikir baru. Cukup menyediakan dokumen pendukung, ikuti prosedur dan hormati proses. Dan, tentu saja, tanpa suap. Apalagi sudah banyak blog yang memuat hal positif mengenai kepengurusan dokumen paspor di Kantor Imigrasi.

Mengawali proses pertama dengan mekukan Pra Permohonan Paspor secara daring di situs resmi imigrasi. Langkahnya sangat sederhana, cukup memasukkan data pribadi. Pilih tipe permohonan, (jangan mohon balikan, ga ada pilihannya). Kita juga dipersilakan untuk memilih Kantor Imigrasi mana yang akan kita datangi untuk mengurus Paspor pada proses selanjutnya nanti. Pilih yang dekat dengan tempat kerja atau rumah. Selepas itu saya sebagai pemohon diminta untuk membayar uang sejumlah Rp. 355.000,-

Saya membayar biaya pra permohonan paspor online ini dari ATM BCA. Selain BCA, kita juga dapat membayar via Bank lainnya seperti Bank Mandiri, BNI, dan bank baik mainstream maupun bank anti-mainstream.

Tiba di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan pada pukul 7:30. Antriannya sudah mengular. Antrian ini hanyalah antrian masuk ke lantai 2 untuk mengambil nomor antrian. (Doh bingung, antrian untuk mengambil nomor antrian. Antrian-ception). Saran saya sih nikmati saja antrian, toh cepat juga prosesnya. Sebab sebelum sampai di meja pengambilan nomor antrian, ada banyak petugas yang mengecek dokumen persyaratan (asli) di antara barisan. Jadi kalau ada yang kurang lengkap bisa langsung diinformasikan, tidak menunggu ke loket pengurusan paspor. Sangat disarankan menggunakan pakaian sopan dan jangan pakai rok mini (terutama bapak – bapak).

Sesampainya di meja untuk mengambil nomor antrian, petugas menanyakan berkas Tanda Terima Permohonan yang dikirimkan oleh sistem Imigrasi (iPass) ke email masing – masing pemohon. Karena saya mendaftar secara daring, beliyo -nya memberikan saya nomor antrian berkepala 3. Misalnya 3-009 atau 3-001. Ada 3 jenis antrian. Kode 1 adalah untuk pemohon prioritas. Mereka adalah para Lansia, Batita dan penyandang Disabilitas. Kode 2. adalah para pemohon walk-in. Dan 3 untuk pemohon via daring. Di meja ini pula kita diberikan map kuning khas imigrasi. Gratis.

Oh iya, saya mengurus perpanjangan masa berlaku paspor yang sebelumnya dikeluarkan dari Kanim Kota Malang dan KTP saya sudah pindah ke Batam (ruwet beud). Istilah awam ini paspor daerah, padahal tidak ada nomenklatur semacam itu. Saya hanya membawa dokumen persyaratan :

  1. KTP
  2. KK
  3. Paspor Lama (jangan lupa di fotocopy)
  4. Ijazah

Ijazah ini dapat digantikan dengan Akta Lahir atau Akta Perkawinan.

Saya mendapatkan nomor antrian 3-056. Cukup lama juga saya menunggu. Jadi saya menghabiskan waktu tunggu dengan berkeliling ruangan, makan roti dan membaca e-book (pencitraan ah). Di Kanim ini ada 10 loket yang melayani pemohon yang jika saya perkirakan berjumlah 200 – 250 orang per harinya (kira kira doang, mau persisnya sila datang dan hitung sendiri). Keterbatasan inilah yang membuat persyaratan itu harus ditambah 1 item syarat ekstra, yaitu Sabar!

Untuk para mamah mamah yang masih menyusui anaknya (bapak nya ga termasuk), telah disediakan ruang khusus menyusui. Bahkan ada playground kecil untuk anak – anak. Selain itu Kantor Imigrasi juga menyediakan air mineral, gratis.

Ketika giliran saya dipanggil, saya langsung menghadap ke petugas di loket nomor 3. Belum jauh berkenalan, bapak petugas imigrasi sudah nanya – nanya hal pribadi. Eh, ini petugas ya, bukan calon mertua, jadi biasa aja ya. Saat saya mulai diproses, saya baru tahu dan paham penyebab lamanya antrian. Aplikasi untuk memproses data pemohon memang sedikit lambat. Mungkin karena sibuknya proses di backend atau apa saya juga tidak tahu secara detail. Basis aplikasinya yang saya tahu memang sedikit sluggish. Tapi secara umum tidak terlalu mengganggu jalannya proses. Kurang dari 15 menit (ditambah waktu tunggu restart aplikasi web imigrasi itu) proses rampung. Cepatnya.

Setelah foto dan pemindaian biometrik saya, bapak petugas kemudian memberikan Tanda Permohonan disertai beberapa catatan wawancara. Beliyo menginformasikan bahwa 3 hari kemudian saya dapat mengambil paspor. Sekadar informasi pengambilan paspor hanya dilayani pukul 13:00 hingga 16:00. Di bawah itu? Tidak dilayani.

Secara keseluruhan proses dan pelayanan di Imigrasi sudah jauh meningkat. Saya sih tidak melihat ada calo yang berseliweran di area kantor imigrasi. Berbanding jauh pada saat saya pertama kali mengurus paspor baru 5 tahun yang lalu. Modal bawa map saja sudah banyak calo yang datang menghampiri. Di sini, tidak ada. Memang ada kekurangan dari segi jumlah loket dan kecepatan aplikasinya sendiri. Semoga hal yang kurang ini dapat dibereskan dan di-improve di kemudian hari nanti.

Selamat mengurus paspor!

via Tumblr http://ift.tt/2hmY4iu

Leave a Reply